Sebelum cerita ini gue mau membagikan cerita membanggakan gue sebagai guru.
Gue sih sekarang udah bukan guru buat teman2 sekelas lagi toh pada gamau nanya dan diajarin juga. Mumpung di kelas banyak anak pinter, yah banyak alternatif deh dari gangguan gajelas. Walau gue juga merasa sedih sih huhu
This is my confession ya cinnnn sebenernya gue suka ngajar. Gue pernah niat mau jadi dosen. NOT TEACHER! BUKAN GURU! Gue udah bisa bayangin stresnya hadapin anak-anak sialan kalo jadi guru. Gue juga kan pernah ya ngajarin someone panggil saja melati terus di tengah penjelasan dia malah "Ah gue ga ngerti deh."
Yaoloh plis dengerin dulu kalo lu masih bebel ntar gue ajarin bagian sulitnya. Tapi karena manusia itu orang yang pemikirannya tertutup jadi ga ngerti-ngerti sih atau emang beberapa hal are not meant to be understand... (apaan sih)
Gue sih seneng ngajarin ketika 1)muridnya ga luar biasa bebel 2)mau bertanya dan mendengarkan ga cuma ngeluh mulu. Kapan bisanya kalo lu banyak bacot anyeenngg-___-
Terutama waktu itu gue duduk ama Joel terus dia kek gabisa, maka hati nurani gue terdorong buat ngajar dikit-dikit. Waktu itu kan ulangan fisika tentang vektor. Sebenernya sih emang ulangannya gampang dan udah diajarin semua terus si Joel ini dapet 90. Gue sih merasa biasa-biasa aja terus dia malah bilang "mungkin ini karena diajarin lu jes"
Wow...
Entah kenapa gue seneng aja kalo anak yang gue ajar pinter... Walau gue juga ga ngerasa ini semua berkat gue. Yah jadi saya seriusan akan membantu teman-teman kalau bisa. Sayangnya mereka tidak butuh bantuan sayaa
So balik ke review
Jujur aja TFIOS bukan tipe romance favorit gw karena apa ntar gue jabarin but actually it has brilliant message and I like some quotes
[BEWARE CONTAIN SPOILER]
Berikut sinopsis dari wiki. sori males abis nulis garis besar nih cerita hehe
The Fault in Our Stars is the fourth solo novel by author John Green, published in January 2012. The story is narrated by a sixteen-year-old cancerpatient named Hazel, who is forced by her parents to attend a support group, where she subsequently meets and falls in love with the seventeen-year-old Augustus Waters, an ex-basketball player and amputee.
Cerita ini membawa anda kepada kenyataan hidup yang pahit. Walau gue malah lebih sedih pas baca sister's keeper sih habis tokoh utamanya hmmm rada nyebelin.
Mungkin ini yang buat tokoh ini real banget. Kalo orang udah kena penyakit pasti dia antara kesel, tersiksa dan berusaha bertahan ga mungkin dia selalu bersikap manis atau sejenisnya. Dan dia pesimis.
Kalo menurut cerita sikap Hazel dikarenakan keadaan tragis penyakitnya, kalo gasalah seminggu setelah dia mulai menstruasi, dia langsung didiagnosis kena kanker.
Dia juga sempat mengalami near death experience, dan selamat.
Gimana ga kesel sih ngalamin hal-hal pahit dan tentu saja, Hazel punya pegangan yang dia percaya. Sebuah buku yang dia bilang seperti alkitab baginya karena begitu mengerti mengenai bagaimana rasanya kanker, mau mati dan lain-lain.
(John Green knows the essence of book.)
Terus ketemulah dengan Gus yang juga ga kalah... aneh. Si gus ini demen banget menggunakan metafora. Yang mungkin sulit untuk dimengerti... Tapi inilah buku berfilosofi.
Hal yang ga gue suka tentang buku ini:
a. Orang-orang lebih banyak ngomongin bagian sedihnya padahal banyak banget bagian yang mengajarkan hal-hal keren.
Kalo kata Dia, hal paling menyakitkan dari cerita ini adalah ketika mereka sakit dan salah satu dari mereka harus mati duluan.
Sebenernya hal itu adalah penyempitan dari kenyataan yang luas banget *gaya Gus* ketika selamanya disimpulkan dalam satu buku. Sakit atau tidak, a couple... one of them will die too and the other will live longer
Cerita si Hazel ini sama seperti pasangan biasa cuma waktu bersamanya lebih singkat.
di hitungan kita padahal menurut hazel itu selamanya dalam hitungan hari. Well, now I'm thinking John Green as Gus. Full of Metaphore
b. Hazel dengan imperial affliction
Sebenernya sih emang itu pure curiosity dan yang lebih penting: it's part of the plot. Cuma obsesi Hazel rada nyebelin. dan bagaiman menyebalkannya bisa dijelaskan oleh Augustus di surga.
Hazel sangat peduli dengan detail cerita ini terutama setelah si Anna mati gimana dengan emaknya, hamsternya, pria tulip Belanda dan hal-hal yang gue bilang "yaudahlahya."
Tapi kalo dipikir pikir ini kayak orang yang akan mati bertanya bagaimana dan apa yang akan terjadi kepada orang-orang terdekatnya sih dan Hazel berharap lanjutan cerita itu memuaskan. (Mungkin ada kelegaan kali ya kalo tau semuanya baik-baik saja setelah lu mati duluan)
Tapi bagaimana jawaban si Van Houten?(By the way ini beneran nama coklat)
orang yang mati akan meninggalkan yang hidup dan tak ada kewajiban lagi buat mengkhawatirkannya.
c. The romance
Gue sih udah nyimpulin sepihak kalau metafora dari cerita ini adalah cangkupan dari sebuah cerita cinta yang panjang namun terbatas waktu... But.... Ini udah super rush hour banget ceritanya. Yaitu dimulai dari Augustus dan Hazel yang tertarik seperti elektron kepada proton dan menjadi attachment.
Yah pokoknya bagi penggemar cerita cinta yang tumbuh perlahan *eakks kek gue mungkin bagian jatuh cintanya terasa cepet .... dan kurang kerasa. Walau gitu gue percaya pada cinta Gus wkwk
Yang gue suka tentang buku ini
a. Jujur
Gabanyak drama alay dan jujur banget tentang kehidupan
b. Mengandung filosofi
Gue lebih suka filosofi Hazel dan Gus tanpa metaforanya. Kalo pake metaforanya si Gus keliatan kek ngebullshit around wkwk
c. Quotenya keren
Ntar gue kasih nih Jessi's pick/Jessi's favorite quote from TFIOS
Kalo mengenai sedihnya nih cerita menurut gue relatif, gue bahkan ga nangis setelah nyelesaiin nih buku dan gue merasa gue ga berperasaan. Tapi the movie is coming along. Let's see how good/bad it is
Oh ya ada kemungkinan gue nge re-read nih buku.
But Dia, the fault is not on my feeling, but maybe in the translation and perception
Rate:4/5
Jessi's pick quotes
“There will come a time,” I said, “when all of us are dead. All of us. There will come a time when there are no human beings remaining to remember that anyone ever existed or that our species ever did anything. There will be no one left to remember Aristotle or Cleopatra, let alone you. Everything that we did and built and wrote and thought and discovered will be forgotten and all of this”—I gestured encompassingly—“will have been fornaught. Maybe that time is coming soon and maybe it is millions of years away, but even if we survive the collapse of our sun, we will not survive forever. There was time before organisms experienced consciousness, and there will be time after. And if the inevitability of human oblivion worries you, I encourage you to ignore it. God knows that’s what everyone else does.”
But Van Houten: The marks humans leave are too often scars.
The real heroes anyway aren’t the people doing things; the real heroes are the people NOTICING things, paying attention. The guy who invented the smallpox vaccine didn’t actually invent anything. He just noticed that people with cowpox didn’t get smallpox
I can't talk about our love story, so I will talk about math. I am not a mathematician, but I know this: There are infinite numbers between 0 and 1. There's .1 and .12 and .112 and infinite collection of others. Of course, there is a Bigger infinite set of numbers between 0 and 2, or between 0 and a million. Some infinities are bigger than other infinities. A writer we used to like taught us that. There are days, many of them, when I resent the size of my unbounded set. I want more numbers than I'm likely to get, and God, I want more numbers for Augustus Waters than he got. But, Gus, my love, I cannot tell you how thankful I am for our little infinity. I wouldn't trade it for the world. You gave me a forever within the numbered days, and I'm grateful.
“My thoughts are stars I cannot fathom into constellations.”
“That's the thing about pain," Augustus said, and then glanced back at me. "It demands to be felt”
“The world is not a wish-granting factory.”
“Some people don't understand the promises they're making when they make them," I said.
"Right, of course. But you keep the promise anyway. That's what love is. Love is keeping the promise anyway.”
Bonus:
“Thank you for explaining that my eye cancer isn't going to make me deaf. I feel so fortunate that an intellectual giant like yourself would deign to operate on me.”


No comments:
Post a Comment